Adab Menulis Kitab Menurut Para Ulama

Adab Menulis Kitab Menurut Para Ulama

Waktu membaca 5 Menit

Muqaddimah

Assalamu ‘alaikum. Bismillahirrahmanirrahim. pada artikel kali ini saya akan membahas mengenai adab menulis kitab menurut para ulama. Selamat membaca.

Ada pertanyaan yang ditujukan kepada Imam Bukhari tentang tidak dimulainya penulisan kitab Shahih Bukhari dengan kalimat hamdalah dan syahadat, sebagai pengamalan dari hadits Nabi SAW,

“Setiap pekerjaan yang tidak dimulai dengan membaca hamdalah (memuji Allah), maka pekerjaan itu terputus (dari rahmat-Nya)”

Pada hadits yang lain disebutkan,

“Setiap khutbah yang tidak terdapat di dalamnya syahadat, maka khutbah itu seperti tangan yang terpotong.” Kedua hadits ini diriwayatkan oleh Abu Daud dari Abu Hurairah.

 

Penjelasan Mengenai Adab Menulis Kitab Menurut Para Ulama

Ibn Hajar Al-asqalani menjelaskan dalam kitab Fathul Bari syarah Kitab Shahih Bukhari. Mengenai Adab Menulis Kitab Menurut Para Ulama Berikut penjelasannya.

Jawaban pertama, bahwa yang terpenting dalam khutbah adalah memulainya dengan apa yang dimaksudkan. 

Imam Bukhari telah memulai kitab ini dengan membahas “Permulaan Turunnya Wahyu” dan menjelaskan, bahwa maksud pekerjaan itu harus sesuai dengan niatnya, seakan-akan beliau mengatakan,

Aku memulai pembahasan wahyu yang berasal dari Allah untuk menunjukkan ketulusan pekerjaan dan niatku. Sesungguhnya perbuatan yang dilakukan setiap manusia adalah tergantung niat yang ada dalam hatinya, maka cukuplah kita memahami masalah ini dengan makna yang tersirat.”

Cara seperti ini banyak kita temukan dalam metode penulisan kitab-kitab yang lain. 

Jawaban kedua, bahwa kedua hadits tersebut bukan hadits yang memenuhi syarat Bukhari, bahkan kedua hadits tersebut masih mendapat kritikan. 

Kita setuju dengan kedua hadits ini sebagai hujjah, akan tetapi maksud hadits ini bukan berarti harus diucapkan dan ditulis.

Mungkin beliau telah mengucapkan hamdalah dan syahadat ketika menulis, sehingga setelah itu beliau hanya cukup menulis basmalah saja, karena maksud ketiga hal tersebut {hamdalah, syahadat dan basmalah) adalah mengingat Allah SWT, dan itu cukup dengan mengucapkan basmalah. 

Sebagaimana ayat Al Qur’an yang pertama turun,

 اقْرَأْ بِاسْمِ رَبِّكَ 

 “Bacalah dengan nama Tuhanmu.” (Qs. Al ‘Alaq (96): 1) yang berarti, bahwa mengawali suatu perbuatan dengan basmalah telah mewakili hamdalah dan syahadah

Kemudian juga surat-surat Rasulullah yang dikirimkan kepada beberapa raja, beliau hanya menulis di awal surat tersebut dengan basmalah tidak dengan hamdalah dan syahadah, seperti hadits yang diriwayatkan oleh Abu Sufyan tentang cerita Raja Hercules dalam bab ini, hadits yang diriwayatkan oleh Barra’ tentang kisah Suhail bin Amar dalam bab “Perjanjian Hudaibiyah “, dan hadits-hadits lainnya. 

Untuk itu kita dapat memahami bahwa, hamdalah dan syahadah hanya dianjurkan ketika khutbah bukan dalam penulisan surat atau dokumen, maka Imam Bukhari dalam memulai tulisannya memakai metode penulisan surat kepada ulama, dengan tujuan agar mereka dapat mengambil manfaat yang sebesar-besarnya. 

Para penyarah kitab Bukhari telah mengemukakan pendapat dalam masalah ini, meskipun pendapat mereka masih harus diteliti kembali. 

Mereka berpendapat bahwa memulai kitab ini dengan menyebut basmalah dan hamdalah adalah termasuk dua hal yang bertentangan menurut Imam Bukhari, karena jika ia memulai dengan hamdalah, hal itu akan bertentangan dengan adat (kebiasaan), dan seandainya ia memulai dengan basmalah, maka ia telah meninggalkan hamdalah, dengan demikian ia hanya memulai dengan basmalah

Seluruh penulis mushhaf di setiap negara juga mengikuti cara ini, baik mereka yang mengatakan bahwa basmalah adalah termasuk ayat surah Al Fatihah, atau mereka yang tidak berpendapat seperti itu.

Disamping itu ada juga yang konsisten dengan firman Allah, ‘Wahai orang-orang yang beriman janganlah kalian mendahului Allah dan Rasul-Nya” (Qs. Al Hujuraat (49): 1), sehingga beliau tidak mendahului perkataan Allah dan Rasul-Nya kecuali dengan perkataan-Nya. 

Adapun pendapat yang sangat jauh dari kebenaran adalah pendapat yang mengatakan, bahwa Imam Bukhari memulai tulisan ini dengan khutbah, yang di dalamnya ada hamdalah dan syahadah, akan tetapi telah dihapus oleh orang yang meriwayatkannya. 

Seakan-akan orang yang berpendapat seperti ini belum pernah membaca kitab yang ditulis oleh guru-guru Imam Bukhari dan ahli hadits pada waktu itu, seperti Imam Malik dalam kitab Muwaththa’, Abd. Razaq dalam kitab Mushannif, Imam Ahmad dalam kitab Musnad Ahmad, Abu Daud dalam kitab Sunan Abu Daud, dan kitab-kitab lainnya yang tidak dimulai dengan khutbah dan hanya dimulai dengan basmalah.

Golongan ini adalah mayoritas, sedangkan mereka yang memulai dengan khutbah hanya golongan minoritas. 

Apakah mungkin dikatakan setiap perawi kitab-kitab tersebut telah menghapus khutbah?

Sama sekali tidak mungkin, karena menurut pendapat mereka hamdalah hanya diucapkan saja, sebagaimana diriwayatkan oleh Syaikh Khatib dalam Kitab Al Jam’i, bahwa Imam Ahmad hanya membaca shalawat Nabi dan tidak menulisnya ketika menulis hadits, hal ini menunjukkan hamdalah dan syahadah hanya dianjurkan untuk dibaca bukan ditulis. 

Akan tetapi mereka yang memulainya seperti metode khutbah, yaitu dengan menyebut hamdalah dan basmalah, seperti yang dilakukan oleh Imam Muslim, hal itu kita serahkan kepada Allah, karena Dia yang Maha Mengetahui akan suatu kebenaran. 

Sudah menjadi kebiasaan para pengarang kitab, untuk memulai penulisan dengan lafazh basmalah, tetapi dalam penulisan syair ada perbedaan pendapat jika dimulai dengan basmalah.

Menurut Imam Sya’bi, itu tidak boleh. Imam Zuhri mengatakan, “Telah menjadi kesepakatan para ulama terdahulu untuk tidak mencantumkan basmalah dalam penulisan syair,” sedangkan Sa’id bin Juba’ir dan Jumhur Ulama membolehkan hal itu.

Adapun Al Khatib membenarkan kedua pendapat tersebut.

 

Kesimpulan

Oleh : Muhamad Asep Saepuloh

Kesimpulan saya mengenai bahasan  mengenai Adab Menulis Kitab Menurut Para Ulama di atas adalah;

Mengenai pertanyaan yang ditujukan kepada Imam Bukhari tentang tidak dimulainya penulisan kitab  Shahih bukhari dengan kalimat hamdalah dan syahadat, pertanyaan yang ditujukan kepada Imam Bukhari tentang tidak dimulainya penulisan kitab ini dengan kalimat hamdalah dan syahadat, sebagai pengamalan dari hadits Nabi SAW,

“Setiap pekerjaan yang tidak dimulai dengan membaca hamdalah (memuji Allah), maka pekerjaan itu terputus (dari rahmat-Nya)”

Pada hadits yang lain disebutkan, “Setiap khutbah yang tidak terdapat di dalamnya syahadat, maka khutbah itu seperti tangan yang terpotong.”

Kedua hadits ini diriwayatkan oleh Abu Daud dari Abu Hurairah.

Dan jawabannya ;

Jawaban pertama, bahwa yang terpenting dalam khutbah adalah memulainya dengan apa yang dimaksudkan. 

Imam Bukhari telah memulai kitab ini dengan membahas “Permulaan Turunnya Wahyu” dan menjelaskan, bahwa maksud pekerjaan itu harus sesuai dengan niatnya, seakan-akan beliau mengatakan,

Aku memulai pembahasan wahyu yang berasal dari Allah untuk menunjukkan ketulusan pekerjaan dan niatku.

Sesungguhnya perbuatan yang dilakukan setiap manusia adalah tergantung niat yang ada dalam hatinya, maka cukuplah kita memahami masalah ini dengan makna yang tersirat.”

Cara seperti ini banyak kita temukan dalam metode penulisan kitab-kitab yang lain. 

Jawaban kedua, bahwa kedua hadits tersebut bukan hadits yang memenuhi syarat Bukhari, bahkan kedua hadits tersebut masih mendapat kritikan.

Apakah mungkin dikatakan setiap perawi kitab-kitab tersebut telah menghapus khutbah?

Sama sekali tidak mungkin, karena menurut pendapat mereka hamdalah hanya diucapkan saja, sebagaimana diriwayatkan oleh Syaikh Khatib dalam Kitab Al Jam’i, bahwa Imam Ahmad hanya membaca shalawat Nabi dan tidak menulisnya ketika menulis hadits, hal ini menunjukkan hamdalah dan syahadah hanya dianjurkan untuk dibaca bukan ditulis. 

Akan tetapi mereka yang memulainya seperti metode khutbah, yaitu dengan menyebut hamdalah dan basmalah, seperti yang dilakukan oleh Imam Muslim, hal itu kita serahkan kepada Allah, karena Dia yang Maha Mengetahui akan suatu kebenaran. 

Sudah menjadi kebiasaan para pengarang kitab, untuk memulai penulisan dengan lafazh basmalah, tetapi dalam penulisan syair ada perbedaan pendapat jika dimulai dengan basmalah. Menurut Imam Sya’bi, itu tidak boleh.

Imam Zuhri mengatakan, “Telah menjadi kesepakatan para ulama terdahulu untuk tidak mencantumkan basmalah dalam penulisan syair,” sedangkan Sa’id bin Juba’ir dan Jumhur Ulama membolehkan hal itu.

Sekian untuk bahasan kali ini. Semoga bermanfaat dalam kebaikan bagi yang membutuhkan.

Mohon maaf jika ada kekurangan dan keberlebihan. Jika ada saran dan kritik yang membangun, silahkan sampaikan di kolom komentar. 

Terimakasih telah berkunjung ke blog saya dan salam damai. Wassalam.

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.